Dompet Dhuafa Gelar Kongres Kemandirian 2026, Perkuat Pemberdayaan Masyarakat

Dompet Dhuafa menggelar Kongres Kemandirian 2026 sebagai forum untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan masyarakat dan merumuskan langkah konkret menuju masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri.

Mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”, Kongres Kemandirian mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, praktisi pemberdayaan, serta penerima manfaat.

Forum tersebut digelar untuk membahas sejumlah isu strategis, mulai dari kesehatan, ketahanan sosial, pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi. Dompet Dhuafa mendorong hasil pembahasan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat dilanjutkan melalui kolaborasi dan agenda pemberdayaan yang lebih konkret.

Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini mengatakan kongres tersebut memiliki setidaknya dua tujuan utama. Pertama, memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

“Yang pertama kami berkeinginan membuat suatu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bagi bangsa ini. Karena kita perlu terus memberi sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia, perbaikan kehidupan bangsa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Ahmad Juwaini saat pembukaan Kongres Kemandirian, Sabtu (29/8/2026).

Tujuan kedua adalah memperkuat jaringan alumni penerima beasiswa Dompet Dhuafa. Menurut Ahmad, para alumni memiliki sebaran luas dengan latar belakang profesi, kompetensi, institusi, bahkan negara yang beragam.

Sebagian alumni juga telah menempati posisi strategis di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menjadi potensi yang dapat dikonsolidasikan untuk memberikan masukan terhadap pembangunan bangsa sekaligus meningkatkan kualitas program Dompet Dhuafa.

“Beberapa di antaranya juga memiliki posisi-posisi penting di masyarakat, bahkan boleh kita sebut memiliki kapasitas yang sangat potensial untuk ikut memberi masukan-masukan besar terhadap pembangunan bangsa, perbaikan kualitas-kualitas program Dompet Dhuafa, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” tuturnya.

Bahas Kesehatan, Sosial, Pendidikan, dan Ekonomi

Kongres Kemandirian 2026 terbagi dalam dua sesi diskusi panel. Panel pertama mengangkat tema “Strengthening Community Well-being for Sustainable Development” dengan fokus pada isu kesehatan dan sosial.

Sesi tersebut menghadirkan Direktur Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial Salahuddin Yahya, dokter gigi sekaligus influencer Atiatul Muktadir, serta Strategy & Advisory Director KTM Solution Ivan Ahda.

Sementara panel kedua mengangkat tema “Empowered Education, Sovereign Economy” dengan fokus pendidikan dan ekonomi. Narasumber yang hadir antara lain Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Banu Muhammad, serta Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Agustino Zulys.

Diskusi tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan gagasan dari berbagai sektor sekaligus membangun kolaborasi lanjutan. Dompet Dhuafa menempatkan kongres sebagai ruang konsolidasi agar pembahasan mengenai kemandirian dapat menghasilkan agenda yang lebih terukur.

Alumni Beasiswa Jadi Potensi Strategis

Pembina Dompet Dhuafa Yudi Latif turut menyoroti tantangan kemandirian bangsa Indonesia. Menurutnya, persoalan tersebut masih berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari pendidikan, politik hingga pengelolaan sumber daya alam.

Ia juga menilai salah satu persoalan mendasar yang perlu diperkuat adalah kepercayaan dan kesadaran masyarakat terhadap kemampuan diri sendiri.

Sementara itu, Guru Besar FMIPA UI Agustino Zulys menekankan pentingnya optimalisasi zakat produktif untuk mendukung pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Agustino, dana zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara terukur dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Program beasiswa dengan proses seleksi yang ketat, misalnya, dapat diarahkan kepada generasi muda dari keluarga kurang mampu yang memiliki potensi akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa filantropi tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun kapasitas masyarakat dalam jangka panjang.

Dorong Masyarakat Menjadi Subjek Perubahan

Mulyadi Saputra mengatakan perubahan yang berkelanjutan perlu dibangun dari masyarakat yang memiliki kapasitas untuk berkembang secara mandiri.

Karena itu, Dompet Dhuafa terus mendorong model pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek perubahan, bukan sekadar penerima manfaat.

Kongres Kemandirian menjadi salah satu upaya untuk memperluas kolaborasi sekaligus memperkuat gerakan pemberdayaan di berbagai wilayah.

Dompet Dhuafa menilai kemandirian merupakan proses yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem yang mendukung kemandirian.

Melalui pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara produktif, Dompet Dhuafa terus mendorong pemanfaatan sumber daya filantropi untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Kongres Kemandirian 2026 sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, mengidentifikasi tantangan, memperkuat jaringan, dan menyusun langkah kolaboratif dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya dan berkelanjutan.