Pagi itu, embun masih menggantung di kaki Gunung Ungaran. Di sebuah kandang domba di Dusun Gebug, Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang, seorang pemuda tampak sibuk memotong rumput. Dengan cekatan ia mencacah rumput, mencampurnya dengan pakan tambahan, lalu membawanya ke kandang.
Sulit dipercaya, pemuda itu baru sehari tinggal di desa tersebut. Namanya Bernardus Tetabat, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (UNNES) asal Kampung Kairin, Distrik Safan, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.
Di kampungnya tak ada sawah, tak ada peternakan domba. Namun sejak kecil ia terbiasa membantu ibunya berkebun pisang dan pepaya. Pengalaman itulah yang membuatnya cepat beradaptasi dengan kehidupan baru di desa yang mayoritas penduduknya bertani dan beternak.
Sejak 3 Juli 2026, Bernard tinggal di rumah singgah Pak Arto yang terakhir pensiun sebagai Dosen, merupakan teman dari seorang Guru SMP Negeri 2 Pantai Kasuari Kabupaten Asmat Papua Selatan bernama Malik Wibowo, Guru Bernardus Tetabat ketika SMP.
Di rumah sederhana itu, Bernard tidak hanya mendapat tempat tidur dan makan yang cukup, tetapi harapan baru dari Pak Arto membimbingnya untuk berkebun, dan merawat domba hingga membantu warga di sawah.
Bukan agar Bernard menjadi petani atau peternak, melainkan agar ia mampu bertahan hidup di Jawa dan tidak putus kuliah.
Bertahan Hidup dengan Mangga
Sebelum tinggal bersama Pak Arto, hidup Bernard jauh dari kata mudah. Kepada tim Inilah.com, Bernard menceritakan bahwa pernah ada masa ketika ia sama sekali tidak memiliki uang untuk makan.
Selama hampir satu minggu, ia bertahan hanya dengan memetik empat hingga lima buah mangga yang tumbuh di lingkungan kampus PGSD UNNES di Jalan Beringin Raya No.15, Wonosari, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Sesekali ia bisa menikmati lauk ayam kecap atau bebek goreng, itu pun jika salah satu teman sekampungnya baru menerima kiriman uang dari orang tua di Asmat.
“Kalau ada teman yang dapat kiriman, kami makan bersama,” ujarnya.
Di tanah rantau, makanan bukan lagi privilese pribadi. Apa yang ada dibagi dan dinikmati bersama.
“Kalau Mau Bantu Saya, Tolong Teman-teman Saya Juga”
Ketika tim 1 Miliar Kebaikan datang menemuinya, Bernard justru tidak meminta bantuan untuk dirinya sendiri. Permintaannya sederhana: “Kalau bisa, bantu juga teman-teman saya.”
Teman-teman yang dimaksud adalah Saulus Ainapur, Maria Silventina Aiser, dan Andreas Neftalis Senakawem. Mereka sama-sama berasal dari Kabupaten Asmat.
Meski berbeda program studi dan tempat tinggal, mereka telah menjadi keluarga di tanah rantau.
Saat salah satu memiliki makanan, semuanya ikut makan. Saat salah satu mengalami kesulitan, semuanya ikut mencari jalan keluar. Bagi mereka, keluarga tidak selalu lahir dari hubungan darah. Kadang keluarga lahir dari perjuangan yang sama.
Laptop Rp4 Juta yang Hanya Bernilai Rp780 Ribu
Cerita paling menyayat datang dari Maria. Mahasiswi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) itu baru membeli laptop seharga hampir Rp4 juta.
Laptop itu bukan sekadar alat belajar, melainkan modal untuk menyelesaikan kuliah.
Namun, ketika uang makan habis, Maria dihadapkan pada pilihan sulit: ia menggadaikan laptop tersebut dan hanya menerima Rp780 ribu. Uang itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan makan bersama selama kurang lebih dua minggu.
Tim Inilah.com yang mengetahui kisah itu berusaha menebus laptop tersebut. Namun kabar buruk datang, laptop Maria telah dilelang dan berpindah tangan. Tangis Maria pecah. Bukan karena kehilangan sebuah barang elektronik, melainkan karena kehilangan hasil perjuangan yang ia kumpulkan dengan susah payah.
“Biar Saya yang Lapar”
Kisah Saulus Ainapur tak kalah menggetarkan. Mahasiswa semester dua itu mengaku tak pernah menerima kiriman uang dari keluarganya sejak pertama kali datang ke Semarang.
Ayahnya tidak memiliki pekerjaan tetap, sementara ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil.
Beasiswa menjadi satu-satunya sumber kehidupan, namun hanya cair setiap enam bulan sekali.
Dalam wawancaranya bersama Inilah.com, Saulus mengucapkan kalimat yang membuat suasana hening: “Biar saya yang lapar di sini. Kalau saya gagal hanya karena lapar, nanti adik-adik saya yang lebih susah dari saya.”
Saulus adalah anak pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di keluarganya. Ia merasa harus bertahan, karena jika ia menyerah, adik-adiknya mungkin tidak lagi memiliki harapan.
Perjuangan Dimulai dari Rp20 Ribu
Jauh sebelum menjadi mahasiswa UNNES, perjuangan Saulus sudah dimulai saat pendaftaran kuliah jalur afirmasi. Ia bahkan tidak memiliki telepon genggam maupun biaya untuk mengurus berkas.
Batas waktu pendaftaran tinggal satu minggu. Ia mendatangi kerabat dan meminta bantuan keluarga, namun tak satu pun mampu membantu.
Hingga suatu hari, Kepala Kampung melihatnya berdiri sendirian di tepi jalan. Setelah mendengar ceritanya, sang kepala kampung datang ke asrama membawa uang Rp20 ribu.
Uang itulah yang menjadi awal perjalanan Saulus menuju bangku kuliah. Ketika pengumuman tiba dan namanya muncul di urutan pertama, ia menangis lega.
Beasiswa Belum Menjawab Semua Persoalan
Keempat mahasiswa ini memang memperoleh beasiswa; biaya kuliah ditanggung dan tempat tinggal disediakan.
Namun, kehidupan sehari-hari tetap menjadi tantangan besar. Mereka harus memenuhi kebutuhan makan, listrik, internet, transportasi, hingga perlengkapan kuliah secara mandiri.
Andreas pernah melamar pekerjaan di minimarket, sementara Maria mencoba mencari pekerjaan di rumah makan. Namun, keduanya belum berhasil karena persaingan kerja. Pilihan yang mereka hadapi hampir selalu sama: membayar kos atau membeli makan.
Semua Ingin Pulang
Meski tumbuh dalam berbagai keterbatasan, mimpi mereka bukanlah menetap di kota besar atau mengejar kenyamanan hidup di luar Papua.
Sebaliknya, keempatnya memiliki tekad yang sama: pulang untuk mengabdi di tanah kelahiran.
Bernard bercita-cita kembali menjadi guru di Kampung Kairin. Maria ingin memperkuat kualitas pendidikan di daerahnya.
Andreas bertekad membawa ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Semarang untuk membantu anak-anak Papua meraih masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Saulus bercita-cita melanjutkan studi hingga jenjang magister sebelum kembali membangun kampung halamannya melalui dunia pendidikan.
Mereka percaya, perubahan di Papua tidak hanya membutuhkan gedung sekolah, tetapi juga guru-guru yang mau kembali.
Menurut Bernard, salah satu persoalan utama di kampungnya adalah minimnya tenaga pendidik. “Guru yang aktif mengajar hanya sekitar empat sampai lima orang. Muridnya jauh lebih banyak,” katanya.
Menjaga Harapan Agar Tidak Berhenti
Mendengar kisah mereka, tim Inilah.com melalui program 1 Miliar Kebaikan memutuskan mendukung perjuangan empat calon guru tersebut.
Awalnya, tim membeli tiga unit laptop untuk Bernard, Andreas, dan Saulus. Namun setelah mengetahui laptop Maria telah terjual melalui proses lelang, tim kembali membeli satu unit laptop baru sebelum pulang ke Jakarta.
Selain itu, sebuah printer juga diberikan agar dapat digunakan bersama untuk menunjang aktivitas perkuliahan dan membuka peluang usaha digital.
Di akhir pertemuan, tim hanya menitipkan satu pesan sederhana: “Jangan gadaikan laptop ini lagi. Pakailah untuk menyelesaikan kuliah.”
Keempatnya tersenyum. Bukan hanya karena menerima laptop baru, tetapi karena merasa perjuangan mereka akhirnya didengar.
Masa Depan Asmat Sedang Belajar di Semarang
Bernard, Saulus, Andreas, dan Maria tidak datang ke Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih nyaman.
Mereka datang membawa mimpi yang jauh lebih besar, kembali menjadi guru dan membangun kampung halaman.
Sebab membangun pendidikan tidak selalu dimulai dari sekolah yang megah.
Terkadang, perubahan dimulai dari memastikan empat calon guru tidak menyerah di tengah jalan. Dan hari ini, di sebuah sudut Kota Semarang, masa depan pendidikan Asmat sedang belajar, bertahan, dan menunggu saatnya pulang.













