Ketegangan antara UEFA dan FIFA kembali memuncak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Otoritas tertinggi sepak bola Eropa (UEFA) dilaporkan tengah mempercepat upaya untuk menggelar pertemuan darurat bersama 55 asosiasi anggotanya pada pekan ini.
Agenda utamanya hanya satu: membahas rencana memboikot Piala Dunia sebagai bentuk perlawanan terhadap proposal Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang berencana menjual ekuitas sepak bola global kepada investor swasta senilai USD 20 miliar (sekitar Rp324 triliun).
Mega-Proyek FFE dan Campur Tangan Jaringan Trump
Berdasarkan proposal yang digagas Infantino, FIFA berencana membentuk badan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Badan ini dirancang untuk mengambil alih kendali operasi komersial dan acara olahraga, termasuk edisi Piala Dunia pria dan wanita di masa depan.
Sebagai langkah awal, FFE ditargetkan meraup dana segar hingga USD 4,2 miliar (Rp68 triliun) pada akhir tahun ini dengan melepas saham minoritas non-pengendali kepada investor jangka panjang.
Dalam melancarkan mega-proyek ini, FIFA dilaporkan menggandeng raksasa finansial multinasional J.P. Morgan. Salah satu calon investor yang santer disebut adalah Thrive Eternal, perusahaan yang didirikan oleh Joshua Kushner. Menariknya, Joshua adalah saudara kandung dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ikatan politik dan personal yang semakin erat antara Trump dan Infantino usai gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara ini telah memicu kekhawatiran besar di tubuh UEFA.
Kecaman UEFA: “Sepak Bola Bukan Milik FIFA untuk Dijual!”
Menanggapi rencana komersialisasi masif ini, UEFA langsung mengeluarkan kecaman keras secara tertulis. Mereka menegaskan bahwa sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan.
“Ini melanggar batas yang seharusnya tidak pernah dilewati oleh institusi pengatur sepak bola,” tulis pernyataan resmi UEFA. “Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan—terutama dengan nol transparansi mengenai siapa yang mendapatkan keuntungan finansial.”
“Tidak ada satu pun dari kita yang menjadi pemilik sepak bola. (Sepak bola) ini bukan milik FIFA untuk dijual,” tegas UEFA.
Gelombang penolakan ini juga datang dari ranah politik. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menjadi pemimpin dunia pertama yang secara terbuka mengecam proposal FIFA tersebut. Melalui platform X, Burnham menegaskan, “Sepak bola tidak menjadi milik para investor.”
Pertemuan virtual darurat 55 negara anggota UEFA yang kemungkinan besar digelar sebelum akhir pekan ini bertujuan untuk menyatukan suara oposisi demi menjegal rencana Infantino.
Janji Uang FIFA dan Bayang-Bayang Boikot 2021
Ancaman boikot dari UEFA bukanlah gertakan kosong. Pada tahun 2021, FIFA terpaksa membatalkan wacana menggelar Piala Dunia dua tahun sekali murni karena adanya ancaman boikot serupa dari daratan Eropa.
Untuk memuluskan langkahnya kali ini, FIFA mencoba “membeli” dukungan dari 211 federasi anggotanya dengan iming-iming lonjakan dana pengembangan.
Jika proposal FFE disetujui, setiap federasi dijanjikan kucuran dana yang melonjak drastis menjadi USD 20 juta (Rp324 miliar), lalu naik menjadi USD 22 juta dan USD 24 juta pada siklus komersial berikutnya. Angka ini melonjak tajam dibandingkan dana saat ini yang hanya dipatok sebesar USD 8 juta (Rp129 miliar) per negara.
FIFA beralasan langkah ini adalah bentuk “demokratisasi sepak bola di seluruh dunia”, sembari meyakinkan publik bahwa mereka akan tetap memegang kendali penuh atas regulasi, kalender pertandingan, dan keputusan olahraga.
Namun, publik masih menyimpan tanda tanya besar. Pasalnya, FIFA baru saja meraup rekor pendapatan USD 12 miliar (sekitar Rp194 triliun) dari Piala Dunia 2026 yang diwarnai harga tiket selangit di AS, Kanada, dan Meksiko. Skema privatisasi FFE ini dinilai sebagai manuver serakah yang bisa mengorbankan integritas olahraga paling populer di planet ini.













