Banjir bandang menerjang wilayah Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Kamis (27/11/2025). (Foto: tangkapan layar/Mistar)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Banjir bandang disertai tanah longsor yang menggulung 3 provinsi di Pulau Sumatra, yakni Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar) dan Aceh, membuat para pengusaha sawit yang lahannya di Sumatra menjadi tak bisa tidur nyenyak.
Bencana yang menghancurkan ribuan rumah penduduk dan fasilitas umum yang nilainya bisa puluhan, bahkan ratusan triliun rupiah itu, dipicu rusaknya hutan di Sumatra. Diduga karena pembalakan liar hutan oleh industri sawit dan tambang.
Termasuk PT Austindo Nusantara Jaya Tbk atau ANJT, perusahaan sawit yang kantor pusatnya berada di APL Tower Lantai 28, kawasan Grogol-Petamburan, Jakarta Barat, namanya sempat disebut-sebut sebagai perusak hutan.
Melalui anak usahanya yakni PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS), ANJT mengelola konsesi lahan ribuan hektare kebun sawit di Kecamatan Angkola Selatan, Tapanuli Selatan, yang masuk zona merah dampak banjir.
Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2022, perusahaan yang terafiliasi ANJT membantai 2.500 hutan lindung register 45, untuk dijadikan lahan sawit di Labuhan Batu. Modusnya dengan pemalsuan dokumen hak guna usaha (HGU) dan klaim lahan terlantar.
Akibatnya perusahaan tersebut didenda administratif Rp5 miliar namun belum dibayar hingga 2024, dan masih dalam proses banding di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.
Selain itu, sesuai LHP Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) No 08/LHP/XXI/04/2022 di halaman 61, membeberkan kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Toru. Temuan limbah pabrik sawit yang terafiliasi ANJT, mencemari sungai sehingga menyebabkan sedimentasi parah.
Temuan itu terpantau dalam Badan Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (BPKH) 2021 dan investigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Diduga terjadi pelanggaran atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021.
Ciliandra Fangiyono ‘Raja Sawit Muda’
Adalah Ciliandra Fangiono yang berjuluk raja muda sawit kelahiran Riau ini, menjadi pemilik anyar ANJT. Lewat PT Ciliandra Perkasa, dibelinya lebih dari 91 persen saham ANJT dari Keluarga Tahija.
Asal tahu saja, Ciliandara merupakan putra dari Pung Kian Hwa alias Martias Fangiyono yang dianggap sebagai pendiri First Resources. Tercatat di bursa efek Singapura pada 2007, dan menguasai ratusan ribu hektare lahan sawit di Indonesia.
Saat ini, Ciliandra menjabat sebagai Executive Director & Chief Executive Officer (CEO) First Resources, salah satu perusahaan sawit terkemuka yang bermarkas di Singapura. Perusahaan ini dirintis sejak 1992 oleh sang ayah.
Belakangan, First Resources tertarik nyemplung ke bisns hilir sawit. Didirikanlah dua pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Riau, tepatnya di Pelintung dan Dumai. Pabrik tersebut berkapasitas 850 ribu ton.
Sebelum bergabung ke perusahaan keluarganya itu, Cilianda yang alumni Cambridge University itu, sempat berkarier sebagai investment banker di Merryl Lynch Singapura.
Di First Resources, dia menjadi CEO selama lebih dari 10 tahun. Keluarganya adalah penguasa First Resources lewat Eight Capital, perusahaan yang teregister di British Virgin Island.
Sejak 2003, ayahnya tak terlibat dalam bisnis sehingga dia dan saudara-saudaranya yang mengelola perusahaan tersebut. Hingga bisa terus berkembang sebesar sekarang.
Pada 2024, penjualan First Resources dari CPO dan produk turunannya, mencapai 1 miliar dolar Singapura, atau setara Rp13,3 triliun. Sementara laba bersihnya mencapai 246 juta dolar Singapura, atau setara Rp3,3 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar First Resources mencapai Rp35 triliun.
Kekayaannya terus beranak-pinak, kini ditaksir lebih dari US$2,4 miliar atau sekitar Rp39,6 triliun. Pada 2021, Majalah Forbes menempatkan Fangiyono di urutan 24 dari 50 orang terkaya di Indonesia. Kala itu, asetnya mencapai US$1,83 miliar, setara Rp30,2 triliun.














