Komisi XI Gelar Rapat Tertutup Bareng Menkeu Purbaya dan BPI Danantara, Bahas Utang Whoosh?

Clara Medium.jpeg

Kamis, 4 Desember 2025 – 12:31 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/12/2025). (Foto: Inilah.com/Tangkapan Layar).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/12/2025). (Foto: Inilah.com/Tangkapan Layar).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Komisi XI DPR RI memutuskan menggelar rapat kerja secara tertutup saat membahas isu strategis bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Keputusan itu diambil setelah Ketua Komisi XI, Misbakhun, meminta pendapat seluruh fraksi mengenai bentuk rapat. Ia menyinggung bahwa agenda kali ini menyangkut materi strategis, meskipun tidak merinci lebih jauh apa yang akan dibahas.

“Mengenai posisi rapat hari ini, saya butuh masukan apakah rapat dilakukan secara terbuka atau tertutup? Karena banyak hal-hal strategis yang sedang kita bicarakan,” ujar Misbakhun membuka forum. Seluruh fraksi kemudian sepakat rapat dilakukan secara tertutup.

“Saya nyatakan rapat ini ditutup,” kata Misbakhun.

Sebelumnya, Purbaya telah bertemu dengan Rosan Roeslani untuk membahas restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Pemerintah dan Danantara kini tengah mencari skema penyelesaian yang paling tepat.

“Kita diskusi, diskusi baik lah. Termasuk KCIC masih akan dicari bentuk yang pas seperti apa. Nanti tim teknis dia diskusi dengan tim teknis saya. Ini kan masih belum clear betul seperti apa. Saya sih belum tahu sampai detail. Tapi gambaran besarnya clear lah kita mau ngapain ke depan,” ujar Purbaya kepada wartawan.

Purbaya juga memastikan dirinya akan ikut ke China dalam rangka pembahasan utang terkait Whoosh. Namun ia menegaskan perlu ada kejelasan soal pihak yang akan ditemui dan skema negosiasi.

“Jadilah (ke China). (Tapi) saya nggak tahu di China ketemu siapa, China Development (Bank) apa National Development and Reform Commission (NDRC)-nya. Nanti kalau sudah clear ketemu siapa dan skemanya seperti apa, baru kita ke China. Kalau nggak saya bingung (di) China ketemu siapa, nggak jelas,” katanya.

Sementara itu, pihak Danantara memastikan mereka akan berbagi peran dengan pemerintah dalam menangani beban utang Whoosh. COO Danantara, Dony Oskaria, menyebut langkah itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menilai Whoosh telah memberi dampak signifikan bagi mobilitas masyarakat dan perekonomian.

“Masalah mengenai restrukturisasinya sudah disampaikan Bapak Presiden (Prabowo Subianto), tentu melibatkan pemerintah (dan) Danantara,” ujar Dony.

Ia menambahkan, Danantara akan berfokus pada aspek operasional agar layanan Whoosh semakin efisien dan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas Jakarta–Bandung.

“Nah, ini juga solusi terbaik tentunya. Mana yang porsinya Danantara tentu akan dilakukan oleh Danantara terutama sekali berkaitan operasional Whoosh,” jelasnya.

Dony juga menuturkan bahwa pemerintah akan menangani sisi infrastruktur sebagai bagian dari pembagian peran dalam menjaga keberlanjutan operasional kereta cepat tersebut.

“Dan juga ada porsinya pemerintah yang berkaitan dengan infrastruktur,” tambahnya.

Menurutnya, keberadaan Whoosh membawa dampak ekonomi nyata dan memperkuat konektivitas antardaerah.

“Whoosh ini kan memberikan manfaat yang banyak terutama sekali buat perekonomian kita dan juga buat angkutan massal,” tuturnya.

Topik
Komentar